Rabu, 26 November 2014

Kau yang tak ku kenal.

Pertemuan Kita. Aku yakin, ini bukan sekedar kebetulan. Entah ada angin apa, Tuhan menjadikan kita saling berkenalan.

Sungguh, percakapan di facebook itu tak menimbulkan kesan apapun pada awalnya. Kita hanyalah dua insan baru, yang memilih ekstrakulikuler yang sama. Hanya berbeda posisi kan? Kamu bassis, aku vokalis.

Tak ada yang menarik sebenarnya.
Aku menganggapmu pria biasa, yang ingin berkenalan, yang ingin mempunyai teman baru yang mungkin bisa diajak berbagi cerita, atau apapun yang bisa dibagi.
Semua sama pada pangkalnya; Klasik.
Kamu gak benar-benar tau tentangku. Dan aku?juga tak banyak tau apapun tentang hidupmu.
History facebook  kala itu menjadi saksi bahwa dua insan baru diperkenalkan untuk saling mengetahui satu sama lain.
Tepatnya, untuk saling jatuh cinta.

...........
Untuk pria manis yang tak ku kenal,
Kumohon; Jangan Pergi

Jumat, 11 Juli 2014

Baru.

Langkah awal, halaman baru, untuk memulai hidup baru.

Pertemuan awal kita yang sering kali kusebut 'singkat', perbincangan awal kita yang sama sekali tak bermakna, dan canda tawa kita yang yaaa sama sekali tak lucu sebenarnya.
Namun mata itu, tatapan itu, aku yakin ini bukanlah sebuah kesengajaan. Aku yakin akan ada sesuatu yang datang kepada kami; sesuatu yang 'Nyata'.
Pria kurus bertubuh tinggi berkumis tipis, pria bertatapan mata teduh, membuat siapapun yang menatapnya merasakan kehangatan yang dalam.
Aku tak mengerti disebut apa rasa ini.
Kehangatanku yang sebelumnya memuncak, memberikan segelintir getaran getaran dihati yang aku rasa lewat dalam dada ini, sekitika berubah menjadi dingin.
Dingin mempesona, ketika pria itu menyebut namaku; "Aina!!" -30 September 2013-
Lamaaa sekali, aku tak pernah lagi memandang mata sejuk seperti miliknya.
Lagi dan lagi, aku teringat................


Kepada pria yang memiliki tatapan teduh :)

Perjuangan Kami :)



Brukkk!! Aku membanting semua barang bawaanku. Tas gunung, tenda doem dan tongkat bambu, dan tandu raksasa yang.........uh, cukup menyebalkan seisinya. Tidak hanya itu, aku juga memikul beban dipundakku yang pada kenyataannya sangat berat untuk dipikul menaiki gunung. Sebelumnya, dokter pernah berpesan bahwa aku tidak boleh menggemblok beban di punggungku terlalu berat, karena akan merusak saraf kerja mataku.
“Yaaa, apa daya, inilah kewajibanku sebagai penggalang yang siap membawa baik provinsi ini”, ujarku dalam hati.

            Hari itu adalah hari perlombaan pramuka penggalang se-Indonesia. Dimana aku dan reguku diberi kepercayaan untuk mewakili Jakarta Timur dan Provinsi DKI Jakarta dan membawa baik nama sekolahku dikancah Nasional itu.

            Perlombaan berlangsung selama 7 hari 6 malam, tepatnya pada tanggal 7 - 13 Juli 2012. Begitu berat bagiku membawa baik nama Jakarta Timur, DKI Jakarta, PASOPATI, dan khususnya sekolah serta reguku, Putik Melati.

            Berhubung perlombaan tersebut berlangsung di Jakarta, tepatnya di Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur, sudah pastinya aku dan reguku  menjadi tuan rumahnya. “Oke, satu beban lagi yang sangat besar pertanggung jawabannya, fyuhhh” keluh benakku.

            Banyak juri dan peserta lainnya yang berasal dari luar provinsi. Aku berjumpa lebih banyak orang dari luar kota; Aceh, Papua, Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Lebih tepatnya, aku berjumpa oleh semua perwakilan dari tiap-tiap provinsi dari Aceh sampai Papua. Diantara mereka banyak yang bertubuh besar dan kuat, membuat nyaliku semakin ciut dikarenakan melihat ke gagahan mereka. Sedangkan aku dan reguku? Tidak sebanding dengan mereka. Bisa dibilang bahwa kamilah satu-satunya regu yang masih bertempat duduk di bangku kelas 8.
“Tapi bukan berarti otak, akal, iman dan mental kita juga tidak sebanding, bukan? Aku yakin, kualitas dan kuantitas DKI akan lebih terjamin” ujarku menyemangatkan anggota-anggota reguku.

            Hari pertama dalam perlombaan itu sudah membuat ku banyak bertanya dan bingung. Ada apa ini? Mengapa aku sangat mempunyai perasaan yang aneh seperti ini? Tidak sepantasnya aku merasa jatuh terlebih dahulu, apalagi aku harus membangunkan anggota-anggotaku untuk tetap tersenyum menghadapi semua rintangan apapun, mengokohkan diri mereka supaya mampu berdiri di medan laga. Apa jadinya bila mentalku terkikis seperti ini? Apa jadinya anggotaku kalu saja melihat aku seperti ini? Aku mencoba menutupi semua dan mulai fokus kepada materi-materi perlombaan yang ada didepanku.

            Hari pertama, kami membangun sebuah perkemahaan pedesaan. Pionering namanya, Iya, dimana semua dilakukan secara darurat. Meja makan, jemuran dan tempat piring kami bangun dengan menggunakan beberapa tongkat bambu dan dililit dengan tali sampai sedemikian rupa, agar bangunan tersebut tetap kokoh dalam waktu seminggu. Kami menata semua areal perkemahan kami sampai tidak ada sampah sekecil apapun, supaya membuat juri terasa nyaman bila melihat areal pedesan DKI.
Ya, selama disana aku dan reguku selalu dipanggil dengan sebutan nama “DKI”. Lucunya, kalau ada peserta dari pulau lain yang memanggil kami; “Hai kakak-kakak DKI!”. Hiiiii sedikit seram sihya, kesannya, provinsi DKI ini berada ditangan kami-_-

            Hari demi haripun silih berganti. Pada hari ketiga, kami berangkat menuju Gunung Pancar untuk bermalam disana. Pada saat di Gunung Pancar ternyata mentalku naik kembali. Aku merasa senang dapat menjalankan semua materi perlombaan disana dengan sukses. Iya, kami harus bangkit disaat-saat yang seperti itu, disaat yang lain sedang jatuh mental/fisiknya.

Saat itu, aku berpidato mengenai ‘Bela Negara’ didepan 99 peserta lain. Tidak merasa tegang, karena aku yakin kalau narasi pidato yang aku ketik dengan imajinasiku sendiri akan lebih berarti dibandingkan dengan peserta lain yang mungkin saja mendapatkan narasinya dari media maya atau buku. Alhasil, aku yang mewakili DKI mendapat peringkat ke-3 dari 99 peserta.

            Aku tidak mengerti, mengapa tiap kali reguku beraksi, selalu saja ada paparazi yang mengintai. Selalu saja ada kamera dari stasiun televisi yang merekam gerak gerik kami. Apakah karena kami tuan rumahnya? Kini sekarang aku mengerti apa yang dimaksud oleh perasaan yang menghantuiku sejak hari pertama. Banyak orang-orang yang mungkin tidak percaya kepada kami ketika kami mulai menjalankan materi perlombaan dikarenakan kami adalah tuan rumah dari perlombaan Nasional itu. Dikarenakan kami adalah ibu kota Indonesia. Itu sebabnya banyak orang yang berfikir kalau kami sudah mengetahui lebih banyak informasi mengenai lomba tingkat sebelum perlombaan ini berlangsung. Sedih hatiku mendengar semua cemooh dan kritikan mereka terhadap reguku.


            “Hei, kita saling terbuka aja ya.. Aku ngerasa ada yang nge-ganjel gitu dari hari pertama. Aku ngerasa banyak banget keluhan di benak hati . Yaaa aku sebenernya gamau ngasih tau kamu ataupun yang lainnya, karena aku takut nyali kalian akan lumpuh”, ujarku ke Adeline. Adeline adalah pemimpin reguku, dimana aku menjadi wakilnya dalam membawa reguku.
“Iya iya! Gue juga! Gue takut kalo anggota regu kita kebawa beban gara-garat perasaan yang menghantui kita ini. Kita harus tetap senyum ngadepin semua juri dan peserta lain sebagaimana dilomba-lomba biasa” sahut Adeline.
“Iya, benar. Kita harus memancarkan pesona DKI kita, dan meyakinkan ke semua juri bahwa kita tidak curang” balasku. Aku yakin dan sangat yakin bahwa regu kita kuat kok, dan tidak takut menghadapi rintangan atau cemooh apapun, karena aku yakin Allah tahu siapa yang jujur.

            Haripun berlalu lagi, kini aku mendapatkan materi di waktu tengah malam. Masih di Gunung Pancar. Juri memberikan sebuah kasus mengenai regu yang dewasa dan menyuruh tiap-tiap satu orang dari provinsi berbicara didepan 198 orang mengenai kasus tersebut. Nama materinya itu Debat Kasus. Aku termenung, berfikir apakah reguku termasuk regu yang dewasa atau tidak. Aku pun berdiri dan menawarkan diri untuk menjadi orang pertama yang mampu berdiskusi didepan umum mengenai kasus tersebut. “.....regu yang dewasa bukanlah regu yang tua dalam umurnya. Regu yang berani menunjukkan ke semua orang kalau mereka menggunakan logika, bukan kata hati. Regu yang dewasa bukanlah regu yang selalu menang dalam setiap perlombaan. Bukanlah regu yang selalu membawa pulang piala-piala tinggi. Tapi, regu yang dewasa adalah regu yang tetap tersenyum dalam keadaan apapun. Regu yang siap menang dan siap kalah.” ujarku mengakhiri kata batinku setelah menghabiskan 15menit berbicara.

Tanpa aku sadari airmataku pun menetes, mengalir deras dipipiku. Semua yang aku lontarkan itu bukanlah semata dari kata-kata yang ada di otakku. Melainkan itu adalah kata-kata dari hati kecilku. Hal bodoh apa yang telah terjadi? Peserta yang lain terdiam. Mungkin mereka bertanya-tanya mengapa aku harus meneteskan airmata ku seperti itu. Saat itu aku berharap kalau tidak akan ada lagi yang bisa menjatuhkan reguku dan menganggap reguku curang dalam lomba ini karena kami adalah tuan rumahnya.
Juri dari DKI ikut tersenyum, mungkin mereka sudah mulai lelah juga mendengarkan cemooh juri dan panitia dari luar DKI yang selalu menilai Putik Melati.

            Tak terasa, airmataku menetes kembali. Aku tidak ingin menghapus airmata itu, karena itu bukanlah airmata kesedihan, melainkan airmata kebahagiaan karena telah berhasil mengungkapkan semuanya.

            Hari terkahirpun tiba, pengumuman akan perlombaan dimulai. Aku tidak yakin reguku akan menang, karena aku tau panitia dan juri lainpun tidak akan ingin memberikan point yang sesungguhnya, yaaa sudahlah aku tak ingin membahasnya lagi. Tapi aku dan reguku Putik Melati tetap menundukkan kepala, berdoa, memohon hasil yang terbaik kepada Allah.

Tiba saat pengumuman dimulai.............. Juara I Jawa Barat, juara II Jawa Tengah, juara III Yogyakarta. Dan DKI harapan III.

            Aku memeluk semua teman-temanku. Airmata yang aku tahan sejak hari pertama terbalaskan sudah. Kami menangis besama. Bukan menangis meratapi kegagalan, tapi menangis karena telah begitu banyak orang yang memperhatikan kami, sampai-sampai kami selalu dinilai dalam hal yang buruk.

            Aku salut terhadap teman-temanku yang menangis sambil memelukku. Aku salut terhadap pemimpin reguku yang tetap mengajarkan kami tersenyum walaupun terlihat begitu deras airmatanya mengalir.

            Satu hal dari sisi baiknya adalah berkata “Mungkin ini balasan terhadap do’a kita. Kita meminta agar diberikan hasil yang terbaik, dan inilah hasilnya. Mungkin Allah punya rencana lain. Mungkin Allah tidak mau memberikan kita juara I karena takut bila nantinya kita sombong. Allah sayang sama DKI. Percayalah.” terhadap reguku...