Brukkk!! Aku membanting semua barang bawaanku. Tas
gunung, tenda doem dan tongkat bambu, dan tandu raksasa yang.........uh, cukup
menyebalkan seisinya. Tidak hanya itu, aku juga memikul beban dipundakku yang
pada kenyataannya sangat berat untuk dipikul menaiki gunung. Sebelumnya, dokter
pernah berpesan bahwa aku tidak boleh menggemblok
beban di punggungku terlalu berat, karena akan merusak saraf kerja mataku.
“Yaaa, apa daya, inilah kewajibanku sebagai penggalang yang siap membawa baik
provinsi ini”, ujarku dalam hati.
Hari
itu adalah hari perlombaan pramuka penggalang se-Indonesia. Dimana aku dan
reguku diberi kepercayaan untuk mewakili Jakarta Timur dan Provinsi DKI Jakarta
dan membawa baik nama sekolahku dikancah Nasional itu.
Perlombaan
berlangsung selama 7 hari 6 malam, tepatnya pada tanggal 7 - 13 Juli 2012.
Begitu berat bagiku membawa baik nama Jakarta Timur, DKI Jakarta, PASOPATI, dan
khususnya sekolah serta reguku, Putik Melati.
Berhubung
perlombaan tersebut berlangsung di Jakarta, tepatnya di Bumi Perkemahan
Wiladatika Cibubur, sudah pastinya aku dan reguku menjadi tuan rumahnya. “Oke, satu beban lagi
yang sangat besar pertanggung jawabannya, fyuhhh” keluh benakku.
Banyak
juri dan peserta lainnya yang berasal dari luar provinsi. Aku berjumpa lebih
banyak orang dari luar kota; Aceh, Papua, Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Lebih tepatnya, aku berjumpa oleh semua perwakilan dari tiap-tiap provinsi dari
Aceh sampai Papua. Diantara mereka banyak yang bertubuh besar dan kuat, membuat
nyaliku semakin ciut dikarenakan
melihat ke gagahan mereka. Sedangkan aku dan reguku? Tidak sebanding dengan
mereka. Bisa dibilang bahwa kamilah satu-satunya regu yang masih bertempat
duduk di bangku kelas 8.
“Tapi bukan berarti otak, akal, iman dan mental kita juga tidak sebanding,
bukan? Aku yakin, kualitas dan kuantitas DKI akan lebih terjamin” ujarku
menyemangatkan anggota-anggota reguku.
Hari
pertama dalam perlombaan itu sudah membuat ku banyak bertanya dan bingung. Ada
apa ini? Mengapa aku sangat mempunyai perasaan yang aneh seperti ini? Tidak
sepantasnya aku merasa jatuh terlebih dahulu, apalagi aku harus membangunkan anggota-anggotaku
untuk tetap tersenyum menghadapi semua rintangan apapun, mengokohkan diri
mereka supaya mampu berdiri di medan laga. Apa jadinya bila mentalku terkikis
seperti ini? Apa jadinya anggotaku kalu saja melihat aku seperti ini? Aku
mencoba menutupi semua dan mulai fokus kepada materi-materi perlombaan yang ada
didepanku.
Hari
pertama, kami membangun sebuah perkemahaan pedesaan. Pionering namanya, Iya, dimana
semua dilakukan secara darurat. Meja makan, jemuran dan tempat piring kami
bangun dengan menggunakan beberapa tongkat bambu dan dililit dengan tali sampai
sedemikian rupa, agar bangunan tersebut tetap kokoh dalam waktu seminggu. Kami
menata semua areal perkemahan kami sampai tidak ada sampah sekecil apapun,
supaya membuat juri terasa nyaman bila melihat areal pedesan DKI.
Ya, selama disana aku dan reguku selalu dipanggil dengan sebutan nama “DKI”.
Lucunya, kalau ada peserta dari pulau lain yang memanggil kami; “Hai
kakak-kakak DKI!”. Hiiiii sedikit seram sihya, kesannya, provinsi DKI ini
berada ditangan kami-_-
Hari
demi haripun silih berganti. Pada hari ketiga, kami berangkat menuju Gunung
Pancar untuk bermalam disana. Pada saat di Gunung Pancar ternyata mentalku naik
kembali. Aku merasa senang dapat menjalankan semua materi perlombaan disana dengan
sukses. Iya, kami harus bangkit disaat-saat yang seperti itu, disaat yang lain
sedang jatuh mental/fisiknya.
Saat itu, aku berpidato mengenai ‘Bela Negara’
didepan 99 peserta lain. Tidak merasa tegang, karena aku yakin kalau narasi
pidato yang aku ketik dengan imajinasiku sendiri akan lebih berarti
dibandingkan dengan peserta lain yang mungkin saja mendapatkan narasinya dari
media maya atau buku. Alhasil, aku yang mewakili DKI mendapat peringkat ke-3
dari 99 peserta.
Aku
tidak mengerti, mengapa tiap kali reguku beraksi, selalu saja ada paparazi yang mengintai. Selalu saja ada
kamera dari stasiun televisi yang merekam gerak gerik kami. Apakah karena kami
tuan rumahnya? Kini sekarang aku mengerti apa yang dimaksud oleh perasaan yang
menghantuiku sejak hari pertama. Banyak orang-orang yang mungkin tidak percaya
kepada kami ketika kami mulai menjalankan materi perlombaan dikarenakan kami
adalah tuan rumah dari perlombaan Nasional itu. Dikarenakan kami adalah ibu
kota Indonesia. Itu sebabnya banyak orang yang berfikir kalau kami sudah
mengetahui lebih banyak informasi mengenai lomba tingkat sebelum perlombaan ini
berlangsung. Sedih hatiku mendengar semua cemooh dan kritikan mereka terhadap
reguku.
“Hei,
kita saling terbuka aja ya.. Aku ngerasa ada yang nge-ganjel gitu dari hari
pertama. Aku ngerasa banyak banget keluhan di benak hati . Yaaa aku sebenernya
gamau ngasih tau kamu ataupun yang lainnya, karena aku takut nyali kalian akan
lumpuh”, ujarku ke Adeline. Adeline adalah pemimpin reguku, dimana aku menjadi
wakilnya dalam membawa reguku.
“Iya iya! Gue juga! Gue takut kalo anggota regu kita kebawa beban gara-garat
perasaan yang menghantui kita ini. Kita harus tetap senyum ngadepin semua juri
dan peserta lain sebagaimana dilomba-lomba biasa” sahut Adeline.
“Iya, benar. Kita harus memancarkan pesona DKI kita, dan meyakinkan ke semua
juri bahwa kita tidak curang” balasku. Aku yakin dan sangat yakin bahwa regu
kita kuat kok, dan tidak takut menghadapi rintangan atau cemooh apapun, karena
aku yakin Allah tahu siapa yang jujur.
Haripun
berlalu lagi, kini aku mendapatkan materi di waktu tengah malam. Masih di
Gunung Pancar. Juri memberikan sebuah kasus mengenai regu yang dewasa dan
menyuruh tiap-tiap satu orang dari provinsi berbicara didepan 198 orang
mengenai kasus tersebut. Nama materinya itu Debat Kasus. Aku termenung,
berfikir apakah reguku termasuk regu yang dewasa atau tidak. Aku pun berdiri
dan menawarkan diri untuk menjadi orang pertama yang mampu berdiskusi didepan
umum mengenai kasus tersebut. “.....regu yang dewasa bukanlah regu yang tua
dalam umurnya. Regu yang berani menunjukkan ke semua orang kalau mereka
menggunakan logika, bukan kata hati. Regu yang dewasa bukanlah regu yang selalu
menang dalam setiap perlombaan. Bukanlah regu yang selalu membawa pulang
piala-piala tinggi. Tapi, regu yang dewasa adalah regu yang tetap tersenyum
dalam keadaan apapun. Regu yang siap menang dan siap kalah.” ujarku mengakhiri
kata batinku setelah menghabiskan 15menit berbicara.
Tanpa aku sadari airmataku pun menetes, mengalir
deras dipipiku. Semua yang aku lontarkan itu bukanlah semata dari kata-kata
yang ada di otakku. Melainkan itu adalah kata-kata dari hati kecilku. Hal bodoh
apa yang telah terjadi? Peserta yang lain terdiam. Mungkin mereka bertanya-tanya
mengapa aku harus meneteskan airmata ku seperti itu. Saat itu aku berharap
kalau tidak akan ada lagi yang bisa menjatuhkan reguku dan menganggap reguku
curang dalam lomba ini karena kami adalah tuan rumahnya.
Juri dari DKI ikut tersenyum, mungkin mereka sudah mulai lelah juga
mendengarkan cemooh juri dan panitia dari luar DKI yang selalu menilai Putik
Melati.
Tak
terasa, airmataku menetes kembali. Aku tidak ingin menghapus airmata itu,
karena itu bukanlah airmata kesedihan, melainkan airmata kebahagiaan karena
telah berhasil mengungkapkan semuanya.
Hari
terkahirpun tiba, pengumuman akan perlombaan dimulai. Aku tidak yakin reguku
akan menang, karena aku tau panitia dan juri lainpun tidak akan ingin
memberikan point yang sesungguhnya, yaaa sudahlah aku tak ingin membahasnya
lagi. Tapi aku dan reguku Putik Melati tetap menundukkan kepala, berdoa,
memohon hasil yang terbaik kepada Allah.
Tiba saat pengumuman dimulai.............. Juara I
Jawa Barat, juara II Jawa Tengah, juara III Yogyakarta. Dan DKI harapan III.
Aku
memeluk semua teman-temanku. Airmata yang aku tahan sejak hari pertama
terbalaskan sudah. Kami menangis besama. Bukan menangis meratapi kegagalan,
tapi menangis karena telah begitu banyak orang yang memperhatikan kami,
sampai-sampai kami selalu dinilai dalam hal yang buruk.
Aku
salut terhadap teman-temanku yang menangis sambil memelukku. Aku salut terhadap
pemimpin reguku yang tetap mengajarkan kami tersenyum walaupun terlihat begitu
deras airmatanya mengalir.
Satu
hal dari sisi baiknya adalah berkata “Mungkin ini balasan terhadap do’a kita.
Kita meminta agar diberikan hasil yang terbaik, dan inilah hasilnya. Mungkin
Allah punya rencana lain. Mungkin Allah tidak mau memberikan kita juara I
karena takut bila nantinya kita sombong. Allah sayang sama DKI. Percayalah.”
terhadap reguku...